Header Ads

Penjualan Meningkat, Vivo Semakin Agresif

Edisi 09-07-2017

Penjualan Meningkat, Vivo Semakin Agresif


SEJAK hadir di Asia Tenggara pada 2014 silam, Vivo sudah menganggap Indonesia pasar potensial. Namun, tahun lalu mereka semakin agresif.

Penjualan mereka naik 3x lipat dibanding tahun sebelumnya. Saat ini pun Vivo sudah menempati jajaran smartphone dengan market share terbesar di sejumlah negara. Senior Brand Manager Vivo Indonesia Meutia Setijono mengatakan, Indonesia merupakan pasar yang menjanjikan dari sisi penjualan produk. Meski Vivo merupakan pemain baru dalam pasar smartphone Tanah Air, mereka terus menunjukkan kemajuan yang baik dari sisi penjualan. “Pasar Indonesia menjanjikan. Pertumbuhan kita di Indonesia sudah melebihi India,” ujar Meutia kepada KORAN SINDO di sela-sela perhelatan MWC Shanghai 2017 di Shanghai New International Expo Centre, Shanghai, belum lama ini.

Meutia mengatakan, mengandalkan kamera dan musik, ponsel Vivo efektif menyasar target konsumen millennials di rentang usia 18 tahun-35 tahun. “Sebelum rilis produk baru ke pasar, kita lakukan riset konsumen sukanya seperti apa. Karena ponsel tidak sekadar untuk berkomunikasi, tapi juga mengekspresikan diri, misalnya dengan selfie ,” ungkapnya. Dengan peningkatan penjualan, Meutia melanjutkan, artinya produk Vivo sudah bisa diterima di Indonesia. Konsumen sudah percaya dan puas. Produk Vivo juga bisa relevan dengan kebiasaan dan kebutuhan konsumen di Indonesia yang sangat majemuk.

MEnguatkan Layanan PurnaJual

Langkah selanjutnya yang dilakukan Vivo di Indonesia adalah menguatkan di service center . “Kita ingin apabila ada kerusakan dan klaim bisa dilakukan dengan cepat. Bahkan, service center juga aktif menghubungi konsumen untuk menanyakan kepuasan,” kata Meutia.

Pabrikan smartphone asal Tiongkok tersebut berencana terus memperbesar pabrik di Tanah Air yang sudah ada sejak Maret 2016 di kawasan Cikupa, Tangerang. Salah satunya membangun R&D. “Pusat riset dan pengembangan ini dibangun lantaran market di Indonesia masih besar. Perilaku masyarakat menggunakan smartphone berbeda-beda dari setiap negara, termasuk Indonesia. Itulah kenapa kami fokuskan bangun di sini,” kata Kenny Chandra, Chief Operating Officer PT Vivo Communication Indonesia.

Pembangunan pabrik di Indonesia memang menjadi cara vendor smartphone untuk memenuhi peraturan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) 30 persen. Sebelum merilis X5Pro, Vivo sudah merilis 5 macam smartphone dengan rentang harga antara Rp1,3 juta hingga Rp7 juta. Mereka sudah memiliki 16 outlet dan berencana menambah 40 gerai lagi. Saat ini mereka masih bergantung dengan gerai yang dimiliki sendiri serta toko-toko rekanan. Namun, dalam beberapa waktu ke depan, Vivo berencana bekerja sama dengan distributor besar. “Mungkin dalam waktu dekat ini,” beber Kenny.

Saat ini Vivo Smartphone dapat ditemukan di India, Malaysia, Indonesia, Thailand, Myanmar, Vietnam, dan Filipina. Mereka memiliki lebih dari 5.000 pegawai dan 6.000 pengecer di 360 kota dalam 32 provinsi untuk melayani konsumen di Indonesia. Pada akhir Januari 2017 Vivo juga telah membangun lebih dari 50 pusat layanan purnajual eksklusif di seluruh Indonesia.

Thomasmanggalla